Trending Now
Nagari Koto Gadang, Kampung Kecil Pencetak Pahlawan Besar
Kamis, 10 Nov 2022 17.15 WIB
BAGIKAN fb fb
Kamis, 10 Nov 2022 17.15 WIB
Balai Adat Koto Gadang yang telah berdiri sebelum Indonesia merdeka. Bangunan ini diresmikan pada tanggal 12 November 1939 silam. (Caritau - Rahma Dhoni)

CARITAU BUKITTINGGI – Nagari Koto Gadang adalah kampung nan permai di sebelah barat Kota Bukittinggi. Lokasinya di seberang Ngarai Sianok ataupun di kaki Gunung Singgalang. Cemara tua berderet di sepanjang jalan masuk ke kampung itu. Rumah-rumah lama berarsitektur kolonial awal abad ke-20 masih tampak elok dan terpelihara.

 

Nagari Koto Gadang terletak di Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat. Nagari tersebut hanya memiliki luas 640 hektar, di mana terhampar dari kaki Gunung Singgalang hingga Ngarai Sianok. 

 

Azizah Etek, dkk dalam Buku Koto Gadang Masa Kolonial (2007) menceritakan asal usul Nagari Koto Gadang. Dikatakan, menurut salah satu versi tambo, pada abad ke-17 sekelompok masyarakat kaum yang berasal dari Pariangan Padang Panjang di bawah Pasukan Niniak Datuak Katumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang, memerintahkan mendirikan nagari-nagari baru di seluruh wilayah Minangkabau. 

 

Sehingga, penduduk Nagari Pariangan menyebar di mana-mana. Dengan mendaki dan menuruni bukit, lembah serta menyebrangi anak sungai untuk mencari tanah yang elok dijadikan ladang, sawah, dan tempat tinggal.

 

Setelah lama menyusuri nagari terlihatlah dari puncak sebuah bukit hamparan yang elok untuk ditempati. Karena rasa sangat senangnya maka berteriaklah ketua rombongan kepada anggotanya, “Koto Tanah nan Gadang,” yang berarti inilah tanah yang besar. Selanjutnya, kata-kata tersebutlah yang kelak dijadikan nama nagari yang baru mereka temukan. (Azizah, 2007: 4)

 

Koto Gadang, Era Kolonial dan Pendidikan

 

Sejumlah rentetan kejadian mewarnai Koto Gadang sebagai daerah penting masa kolonial. Diketahui, Hindia Belanda membentuk Lembaga Keselarasan di Sumatera Barat pada tahun 1825. Adapun, Azizah Etek menyebut Koto Gadang dijadikan Ibu Nagari dari Kelarasan IV Koto. 

 

Kemudian, dibuatlah susunan pemerintahan yang baru dengan Tuanku Lareh sebagai pemimpin yang memerintah di kelarasan IV Koto dan Penghulu Kepala sebagai pemimpin pemerintahan nagari.

 

Kedatangan Hindia-Belanda juga cukup berpengaruh bagi masyarakat Nagari Koto Gadang, salah satunya pendidikan. Sewaktu masyarakat di luar nagari Koto Gadang belum melirik pendidikan, Koto Gadang bahkan telah mendirikan Perhimpunan Julius pada tahun 1906 dan tahun 1909, Koto Gadang juga membentuk Studiefonds. 

 

Anggota perhimpunan Julius itu merupakan anak Koto Gadang yang belajar pada sekolah Belanda di Fort de Kock. Mereka sadar betul, bahwa harus ada perubahan yang akan mereka bawa ke kampung halamannya. 

 

Kesadaran menuntut ilmu di Koto Gadang semakin gencar ketika pembaharuan dimasukkan oleh laras Koto Gadang, Jahja Datoek Kajo (bertugas dari tahun 1894-1914 sebagai Tuanku Laras IV Koto) yang meramalkan bahwa hanya melalui pendidikan, corak kehidupan dapat didatangkan ke Koto Gadang. 

 

Dengan perencanaan yang sistematis dan dengan sistem kepemimpinan yang kharismatik, Jahja Datoek Kajo mendorong setiap anak lelaki dan perempuan pergi ke sekolah.

 

Pada tahun 1910, masyarakat Koto Gadang telah berani mempersiapkan guru untuk mengembangkan pendidikan bahasa Belanda dengan mengirim dua pemudanya ke negeri Belanda untuk mendapat diploma guru. (Azizah, 2007: 135)

 

Kemudian pada 5 Juli 1912 dapat dimulai dengan  pembukaan sekolah HIS yang berbahasa Belanda di Koto Gadang yang diurus oleh Vereeniging Studiefonds Koto Gadang. Sekolah ini didirikan oleh sejumlah tokoh dan kaum terpelajar di Koto Gadang pada 1912, salah satunya Haji Agus Salim. 

 

Kisah HIS Koto Gadang memang tidak luput dari nama Agus Salim. Dalam buku Seratus Tahun Haji Agus Salim (1996) disebutkan Salim mendirikan HIS setelah dia berhenti bekerja di Bureau voor Openbare Werken (Dinas Pekerjaan Umum pemerintah Hindia Belanda) di Batavia. 

 

Sedangkan menukil dari Majalah Tempo: Agus Salim, Diplomat Jenaka Penopang Republik menuliskan tekad H. Agus Salim dan kawan-kawan membangun sekolah didasari persinggungannya yang intens dengan Belanda. Sebagai pribumi, ia kerap mengalami dan menyaksikan perlakuan diskriminatif pemerintah Belanda terhadap penduduk daerah jajahan. Pengalaman di sekolah dasar ini membekas dalam diri Salim dan membuatnya ingin melepaskan diri dari segala hal yang berbau Belanda, termasuk sekolah Belanda.

 

HIS Koto Gadang juga terbilang unik. Selain menjadi HIS swasta pertama, semua guru berasal dari Koto Gadang meski pengajarannya menggunakan bahasa Belanda. Lulusan sekolah ini bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, seperti MULO, HIK, Huishoudschool, dan STOVIA. 

 

Melihat kesungguhan warga Koto Gadang mendirikan HIS, akhirnya pada 1 Juli 1929 HIS Studiefonds diambil alih oleh pemerintah dan dijadikan Gouvernements Hollandsch Inlandsche School atau HIS Gouvernements. Muridnya 207 orang dengan jenjang tujuh kelas. Sejak itu, pemerintah membiayai pengoperasian HIS. 

 

Sayangnya, hal ini tak berlangsung lama. Perjalanan HIS sempat terseok pada 1934 ketika statusnya diturunkan menjadi  sekolah standar. Krisis ekonomi yang melanda dunia ketika itu membuat pemerintah Belanda berhemat. Selama tiga tahun, subsidi untuk HIS dikurangi secara perlahan. Pengelolaannya juga dikembalikan ke Studiefonds Koto Gadang.

 

Kini semua itu tinggal kenangan. Gedung HIS lenyap tak berbekas. Tak ada lagi ruang kelas berdinding kayu dan beratap seng di areal seluas 825 meter persegi itu. Sekolah rendah ini telah dihancurkan saat dijadikan SD Inpres pada 1980-an dan menjadi SD Negeri 08 Koto Gadang hampir 40 tahun kemudian. (Majalah Tempo, 2013: 103)

 

Tokoh-tokoh Besar dari Koto Gadang

 

Sosiolog Mochtar Naim, dalam Buku Azizah Etek: Koto Gadang di Era Kolonial (2007) menerangkan buah dari pendidikan di Koto Gadang pada masa kolonial sangat gemilang. 

 

Ia pun menuliskan "Penelitian yang saya lakukan di tahun 1970-an menunjukkan, di antara 2.666 orang yang berasal dari Koto Gadang di tahun 1967, 467 atau 17,5 persen merupakan lulusan universitas. Di antaranya 168 orang menjadi dokter, 100 orang jadi insinyur, 160 orang jadi sarjana hukum dan kira-kira 10 orang doktorandus ekonomi dan bidang-bidang ilmu kemasyarakatan lainnya. Kemudian di tahun 1970, 58 orang lagi lulus universitas. Jadi, dengan 525 orang lulusan universitas (tidak termasuk mereka yang bergelar sarjana muda), Koto Gadang yang punya penduduk kurang dari 3.000 tak terkalahkan barangkali oleh desa mana saja, bahkan tidak oleh masyarakat-masyarakat yang telah maju lainnya di dunia," terang Naim.

 

Selain melahirkan banyak akademisi, Nagari Koto Gadang juga terkenal tempat lahir dan besarnya pahlawan-pahlawan bertitel nasional. Tercatat, H. Agus Salim (Mentri Luar Negeri), Rohanna Koeddoes (Wartawati pertama Indonesia dan pahlawan RI), Sutan Sjahrir (Perdana Menteri pertama RI) dan Emil Salim (Mentri Penerangan RI) juga tumbuh besar di Nagari hamparan Gunung Singgalang ini. 

 

H. Agus Salim lahir 8 Oktober 1884, lahir dengan nama Masjudul Haq. Agus Salim merupakan anak keempat dari 15 saudara. Ayahnya, Sutan Mohammad Salim, menikah tiga kali setelah dua istrinya meninggal berturut-turut. Salim bisa bersekolah di ELS lantaran posisi ayahnya sebagai pegawai pemerintah. 

 

Saat Salim berusia sekitar 6 tahun, pemerintah Hindia Belanda mengangkat ayahnya menjadi Hoofd Djaksa pada Landraad di Riauen Onderhorigheden atau Jaksa Tinggi pada Pengadilan Negeri Riau dan daerah bawahannya. Bagi orang Hindia Belanda, posisi hoofd djaksa termasuk tinggi dan terhormat. 

 

Adapun Agus Salim tumbuh dan berkembang di Nagari Koto Gadang menjelang remaja. Sampai sekarang, rumah Agus Salim masih terpelihara dan terjaga oleh keturunan-keturunannya. 

 

Agus Salim dikenal sebagai pahlawan Indonesia, karena jasanya begitu besar kepada Bangsa Indonesia. Dia pernah menjadi anggota Volksraad (1921-1924), anggota panitia 9 BPUPKI yang mempersiapkan UUD 1945, Menteri Muda Luar Negeri Kabinet Sjahrir II 1946 dan Kabinet III 1947 hingga terlibat aktif dalam pembukaan hubungan diplomatik Indonesia dengan negara-negara Arab, terutama Mesir pada tahun 1947.

 

Sedangkan Roehana Koeddoes dan Sutan Sjahrir merupakan saudara satu ayah yang bernama Mohamad Rasjad Maharadja Soetan. 

 

Roehana cerdas meski tidak mengenyam pendidikan formal. Dia sering belajar dengan ayahnya, yang mengajarinya membaca dan studi bahasa. Ketika ayahnya ditugaskan di Alahan Panjang, Sumatera Barat, dia meminta tetangganya (termasuk istri jaksa lain) untuk mengajarinya membaca dan menulis dalam aksara Jawi dan Latin, dan keterampilan rumah tangga seperti membuat renda. 

 

Setelah kematian ibunya pada tahun 1897, ia kembali ke Koto Gadang dan menjadi semakin tertarik untuk mengajar gadis-gadis di sana untuk belajar kerajinan tangan dan membaca Alquran, meskipun ia sendiri masih anak-anak.

 

Salah satu peninggalan Roehana yang masih tampak ialah Yayasan Amai Setia. Yayasan tersebut ditujukan untuk perempuan di Koto Gadang untuk mendapat pelajaran berupa kursus menjahit, bordiran, menyulam, merenda bangku, hingga bertenun. Selain itu, Ruhana dikenal sebagai jurnalis perempuan pertama di Indonesia.

 

Sedangkan bagi Sutan Sjahrir, ia sering dibawa ayahnya ke rumah neneknya di Koto Gadang. Rumah nenek Sjahrir itu kini sudah lama menjadi rumah kosong.

 

Sjahrir tidak menghabiskan masa kecilnya di Koto Gadang. Semasa sekolah, ia merantau hingga ke Bandung untuk menempuh pendidikan sekolah lanjutan atas di AMS. Sepak terjangnya di sekolah hingga berorganisasi sangat gemilang. 

 

Di AMS, namanya harum sebagai murid yang cerdas dan aktif di banyak organisasi serta rajin terlibat dalam klub debat di sekolahnya. 

 

Sjahrir juga punya kepedulian sosial yang tinggi. Ia terjun dalam aksi pendidikan melek huruf secara gratis untuk anak-anak dari keluarga yang tidak mampu dalam Tjahja Volksuniversiteit.

 

Kemudian, aksi sosial Sjahrir menjurus jadi politis. Ketika para pemuda masih terikat dalam perhimpunan-perhimpunan kedaerahan, pada tanggal 20 Februari 1927, Sjahrir termasuk dalam sepuluh orang penggagas pendirian himpunan pemuda nasionalis, Jong Indonesie. 

 

Perhimpunan itu selanjutnya berubah nama jadi Pemuda Indonesia yang menjadi motor penyelenggaraan Kongres Pemuda Indonesia, kongres monumental yang mencetuskan Sumpah Pemuda pada 1928.

 

Setelah itu, karir Sjahrir terus berkilau. Ia tergabung dalam Perhimpunan Indonesia (PI) yang ketika itu dipimpin rekan sedaerahnya, Mohammad Hatta.

 

Sjahrir juga dikenal sebagai orang yang pertama kali mendengar atau mengetahui berita kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II.

 

Usai mendengar kekalahan Jepang tersebut, Sjahrir dan golongan muda lainnya mendesak Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

 

Pasca Indonesia merdeka, Sutan Sjahrir ditunjuk sebagai Perdana Menteri pertama di Indonesia. Pria yang akrab disapa Bung Kecil itu turut aktif melakukan diplomasi ke dunia internasional agar mengakui kemerdekaan Indonesia.

 

Koto Gadang Masa Sekarang

 

Kini, jejak gemilang peradaban di Nagari Koto Gadang masih melekat kuat dalam pandangan. Konon, banyak rumah-rumah besar di sana tak lagi dihuni oleh tuan rumah. Sebab, sang pemilik memutuskan tinggal di daerah-daerah lainnya dan menjadi orang besar. Kini rumah tersebut dijaga oleh orang-orang pendatang yang diamanahkan oleh pemiliknya.

 

Selain itu, rumah-rumah pahlawan yang lahir di sinipun masih dijaga oleh kaum kerabatnya. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung maupun yang ingin tahu bagaimana sejarah mereka.

 

Dilihat sekilas, Nagari Koto Gadang teramat damai dan menenangkan. Sehingga kampung ini begitu permai untuk menikmati masa senja kehidupan. 

 

Tidak kita temukan kebisingan, sebab di nagari kaya sejarah ini sangat menjunjung sendi-sendi peradaban. Menurut data yang disebutkan Wali Nagari Koto Gadang saat ini mayoritas dihuni oleh orang-orang pendatang.

 

Jejak peradaban gemilang masih terlihat kuat dari pandangan. Rumah-rumah gaya Eropa klasik, mengukuhkan ada kehidupan kuat di masa lalu. Bahwa Nagari Koto Gadang dikenal sebagai daerah penghasil orang-orang besar dan pahlawan bangsa yang sejatinya akan sulit digerus zaman.

 

Ini memberi arti bagi kita semua, bahwa pendidikan dan pengetahuan akan melambungkan sebuah peradaban. Sebaliknya, jika pendidikan tidak terpenuhi, kita akan semakin tertinggal oleh mereka yang selalu mengembangkan dirinya. Selamat Hari Pahlawan. (RAHMA DHONI)

hari pahlawan nagari koto gadang h. agus salim sutan sjahrir roehana koeddoes