Sabtu, 01 April 2023
Tag Terpopuler
Bintang Mangrove Terangi Anak-Anak di Pinggiran Sungai Gunung Anyar Surabaya
Sabtu, 31 Des 2022 19.28 WIB
BAGIKAN fb fb fb
Sabtu, 31 Des 2022 19.28 WIB
image
Chusniyati (kiri) bersama Devitha Zulyavira (kanan) dan anak-anak di sekolah sungai Bank Sampah Bintang Mangrove, Gunung Anyar, Surabaya, Senin (26/12/2022). CARITAU-Hapsah
image
Devitha Zulyavira (kanan) dan anak anak di sekolah sungai Bank Sampah Bintang Mangrove, Gunung Anyar, Surabaya, Senin (26/12/2022). CARITAU-Hapsah
image
Chusniyati (kanan) bersama Devitha Zulyavira (kanan) di Bank Sampah Bintang Mangrove, Gunung Anyar, Surabaya, Senin (26/12/2022). CARITAU-Hapsah
image
Chusniyati (kiri) bersama Zulfa warga Gunung Anyar Surabaya di kawasan Mangrove Gunung Anyar Surabaya. (Caritau-Hapsah)

CARITAU SURABAYA – Ayuni (8) bersama dua temannya, Fitri dan Dina tampak asyik bermain di antara tumpukan sampah yang terletak di Bank Sampah Bintang Mangrove di Kelurahan Gunung Anyar Tambak, Kecamatan Gunung Anyar, Kota Surabaya.

 

Tiga siswi SD Dahlan Nudin, Gunung Anyar Tambak Surabaya yang  masih duduk di kelas 2 itu, penasaran dengan aktivitas yang dilakukan Chusniyati, pengelola Bank Sampah Bintang Mangrove yang dengan sigap mengumpulkan aneka sampah, kemudian memilah jenis sampah kering dan basah, memasukkan dalam glangsing, kemudian diikat dan ditumpuk dengan rapi. 

 

Mereka pun sering bertanya kepada Chusniyati,  mengapa di sungai banyak sampah, sampah berasal dari mana, mengapa sampah kering dan basah harus dipisahkan, untuk apa sampah dikumpulkan, tumpukan sampah mau dibawa ke mana, dan masih banyak pertanyaan khas anak-anak lainnya.

 

Hampir tiap hari sehabis pulang sekolah, anak- anak yang tinggal tak jauh dari lokasi, suka melihat-lihat dan bermain di bank sampah yang merupakan program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) PLN Peduli, PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Jatim. 

 

Guna menjawab rasa penasaran anak-anak tersebut, pada 2018, Chusniyati merintis sekolah sungai yang mendapat dukungan penuh dari PLN Peduli agar bisa menularkan kepedulian lingkungan kepada anak-anak di daerah pesisir Gunung Anyar Tambak, Surabaya.

 

“Saya justru senang dengan ketertarikan anak-anak yang banyak melontarkan pertanyaan. Itu menjadi kesempatan bagi saya untuk sekaligus memberi wawasan menanamkan kecintaan terhadap lingkungan sekitar sejak mereka masih kecil,” kata perempuan pegiat lingkungan ini,  menceritakan ide awal berdirinya sekolah sungai, saat ditemui di lokasi pada Senin (26/12/2022).

 

Kini Sekolah Sungai Bintang Mangrove yang digelar setiap hari Minggu sudah diikuti 80 anak-anak dari kawasan setempat. 

 

Sejak awal Chusniyati menerapkan konsep belajar sambail bermain agar anak-anak bisa betah dan selalu senang mengenal lingkungan sekitar. 

 

Tak heran banyak orang tua dari luar kawasan Gunung Anyar Tambak yang mendaftarkan anaknya ikut sekolah sungai, bahkan ada yang  umurnya masih tiga tahun. 

 

“Ada yang mau mendaftar dengan biaya saking kepingin anaknya ikut. Saya persilakan anak mereka ikut tanpa biaya karena sekolah ini gratis. Tujuannya membuat mereka menyukai alam dan kelak bisa menjaganya,”  katanya.

 

Tumbuhkan Kebiasaan Positif Anak

 

Chusniyati dibantu 6 pendidik dari Karang Taruna yang selalu semangat mengajak anak-anak sekolah sungai melakukan berbagai aktivitas yang berhubungan dengan lingkungan. 

 

“Kami berusaha mengajak anak-anak melakukan kegiatan yang menyenangkan karena mereka sudah capai setiap hari mengerjakan tugas-tugas  di sekolah formal,” kata Devitha Zulyavira (21), salah satu pendidik sekolah sungai.

 

Devi mengatakan, kegiatan di sekolah sungai, contonya menanam tanaman sekaligus mengenalkan ragam tanaman sumber oksigen. 

 

Saat menuju lokasi belajar menanam, anak-anak berjalan bersama sembari memunguti sampah yang mereka temui di sepanjang jalan. Juga membuat kerajinan dengan bahan dari sampah yang bisa dimanfaatkan.

 

Bahkan, hal sederhana dalam menjaga lingkungan juga ditanamkan di sekolah sungai seperti  merapikan ruangan, termasuk buang sampah pada tempatnya, mengurangi sampah plastik dengan membawa bekal minuman dalam tumbler dan bukan botol plastik.

 

“Mungkin kebiasaan itu bukan hal baru bagi warga di pusat kota, namun bagi anak-anak pesisir sungai ini, kami tak pernah  surut selalu mengajarkan agar menjadi kebiasan positif mereka. Harapan kami bisa menularkannya  di rumah dan lingungan sekolah,” kata alumnus Pendidikam Komputer Terapan (Pikti) ITS itu.

 

Devi menyebut anak-anak juga diminta agar membawa sampah dari rumah saat menuju sekolah sungai. Nantinya sampah itu akan dimasukkan dalam bank sampah. Tabungan mereka di bank sampah bisa diambil sewaktu-waktu. 

 

“Alhamdulillah mereka senang karena  memiliki tabungan di bank sampah. Jika ingin beli peralatan sekolah atau keperluan lain, tabungan bisa diambil. Bahkan ada anak yang cerita kalau tabungannya buat bantu ibu beli beras di rumah,” ungkap Devi.

 

Menurut Chusniyati, imbauan anak sekolah sungai untuk membawa sampah dari rumah, tujuannya mengajak anak sejak dini untuk peduli lingkungan, sekaligus bisa merasakan manfaat dengan mendapat keuntungan.

 

“Jadi tak hanya orang tua dan dewasa, anak-anak pun juga mulai diberi kesadaran bahwa menjaga alam dan lingkungan ini bisa menbawa banyak keberkahan,” ungkap Chusniyati yang merintis bank sampah bersama suaminya Kisbiyanto.

 

Beromzet Rp20 Juta

 

Sejak beroperasi April 2012 Bank Sampah Bintang Mangrove kini  mengelola sampah sekitar 2 ton per bulan, di mana hampir 80% dari sampah laut. 

 

“Sebelum pandemi ada lebih 10 nelayan yang biasa menyetor sampah, kini hanya 5 nelayan saja. Jadi sampah di laut kawasan Mangrove masih banyak yang belum terjangkau,” kata Chusniyati prihatin.

 

Bank sampah ini merupakan  tempat untuk mengumpulkan sampah-sampah yang disetorkan masyarakat, baik dari rumah sendiri, maupun yang dipungut dari sungai dan laut. Masyarakat  mendapatkan kompensasi dari bank sampah, kemudian oleh bank sampah disetorkan kepada pengepul.

 

Chunsiyati mengatakan, saat ini bank sampah memberi kompensasi kepada masyarakat Rp2.000 per kg sampah yang disetor, kemudian menjual ke pengepul Rp2.200 per kg.

 

“Kami tidak bisa ambil untung banyak karena kami harus menghargai tenaga para nelayan. Mereka tak sekadar mencari uang, tapi hal yang lebih penting adalah mereka ikut membersihkan sampah di laut. Siapa lagi kalau tidak kita warga sekitar yang membersihkan lingkungan? Tak perlu lama menunggu orang lain untuk melakukan,” papar Chusniyati. 

 

Ketulusan Chusniyati membantu warga sekitar dengan memberi keberkahan dari bank sampah tidak sia-sia. Meski hanya bermodal awal Rp400.000 kini tabungan Bank Sampah Bintang Mangrove mencapai Rp20 juta.

 

Chisniyati mengaku sangat berterima kasih atas dukungan penuh dari PLN Peduli yang sejak awal men-support keinginannya membersihkan sampah di  kawasan pesisir, sehingga kini justru bisa mengelola bank sampah dan sekolah sungai.

 

“Tahun depan kami mendapat bantuan PLN berupa motor barang untuk mengangkut sampah dari bank sampah ke pengepul, agar bisa memuat lebih banyak,” kata Chusniyati.

 

Senior Manager Komunikasi dan Umum PLN UID Jatim Hamzah mengatakan,  dukungan PLN pada pengelolaan sampah dan penghijauan merupakan bagian dari komitmen PLN dalam menjalankan bisnis yang berwawasan lingkungan.

 

“PLN berkomitmen melakukan  pembinaan kawasan pesisir Surabaya untuk meningkatkan kesadaran lingkungan, salah satunya dengan memberikan pendampingan bank sampah seperti pembinaan dan pelatihan untuk daur ulang sampah sehingga meningkatkan nilai ekonomi,” papar Hamzah, Rabu (28/12/2022).

 

Hamzah mengatakan, bermula dari kegiatan penanaman mangrove di kawasan Gunung Anyar Tambak pada 2010, PLN UID Jawa Timur kian serius membina kawasan pesisir untuk meningkatkan kesadaran lingkungan. 

 

Tidak berhenti pada penanaman mangrove, PLN Peduli kemudian melanjutkan pembinaan kawasan dengan membangun pos pantau, dermaga, kapal motor, pavingisasi dan merintis kegiatan bank sampah.

 

“Bank sampah efektif mengurangi sampah di pesisir sungai dan laut yang dapat menghambat pertumbuhan mangrove dan mendorong perekonomian masyarakat sekitar melalui tabungan bank sampah yang kemudian dimanfaatkan untuk membayar tagihan listrik,” ungkap Hamzah.

 

Kemudian pada 2018, Sekolah Sungai mulai dirintis untuk menularkan kepedulian lingkungan kepada anak-anak di daerah pesisir Gunung Anyar Tambak.

 

“PLN turut ambil bagian dalam sekolah sungai untuk menguatkan pendampingan dengan ekspektasi menginternalisasi kesadaran akan lingkungan sejak dini sehingga hak anak untuk tumbuh, berkembang dan berkreasi terfasilitasi,” papar Hamzah.

 

Hamzah sangat mengapresiasi kiprah Chusniyati sebagai local hero yang terus mengajak masyarakat sekitar untuk terus menyadari pentingnya menjaga lingkungan.

 

“Pembinaan ini diharapkan mampu mendorong pada kemandirian dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Kaderisasi generasi muda juga perlu dilakukan untuk memastikan program ini dapat terus berjalan dan memberikan manfaat berkelanjutan,” pungkas Hamzah. (Siti Hapsah Agustin)

bank sampah bintang mangrove sungai gunung anyar pln peduli. chusniyati